Sejarah Kue Cakwee


Anda pernah memakan kue cakwee? Kue dengan bentuk panjang dan rasanya nikmat tak tertandingi, apalagi kalau lagi suasana dingin, namun dimakan dengan keadaan hangat dan ditambah dengan sambal. Kali ini Surrive.com akan membahas sejarah kua cakwee ini. Ceritanya terjadi pada era Dinasti Song Selatan di China (1103-1142). Saat itu bangsa China terus menerus mendapat serangan dari Kekaisaran Jin. Pasukan Song terus terdesak, hingga munculah seorang pahlawan muda bernama Yue Fei. Dia mengalahkan pasukan Jin di setiap pertempuran.

Dia kemudian diangkat menjadi jenderal untuk tentara Song. Sosoknya dikenal sebagai ksatria yang jujur dan berani. Pasukan Yue yang dipimpinnya dikenal berdisiplin tinggi. Tak pernah sekali pun mereka mengambil makanan atau harta milik rakyat. Hal itu membuat Yu Fei dan pasukannya dicintai rakyat.

Sebaliknya bagi Bangsa Jin, Yue Fei adalah mimpi buruk. Dalam beberapa pertempuran, pasukan Yue yang cuma berjumlah 3.000 orang mampu mengalahkan pasukan musuh yang berkekuatan 30.000 orang.

"Lebih mudah memindahkan gunung daripada mengalahkan Yue Fei," kata komandan pasukan Jin menggambarkan betapa perkasanya Yue Fei.

Tahun 1124, Pangeran Wuzhu dari Jin kembali menyerang wilayah Song. Lagi-lagi Yue Fei mengalahkan pasukan besar itu dan mengejar mereka. Kemudian kembali Wuzhu mengumpulkan 12.000 pasukan dan menyerang. Lagi-lagi usaha ini dihancurkan Yue Fei.

Bangsa Jin tahu mereka tak akan bisa mengalahkan Dinasti Song jika Yue Fei masih hidup. Maka mereka berusaha menyuap para pejabat korup agar Yue Fei bisa disingkirkan. Komplotan menteri korup itu dipimpin oleh Chin Kwe. Dia menghasut raja agar memanggil pulang Yue Fei yang sedang mengejar pasukan Jin.

Yue Fei sangat kecewa mendengar perintah itu. Dia sadar kalau Bangsa Jin dibiarkan lolos mereka akan kembali mengumpulkan pasukan dan kembali menyerang. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa karena raja yang dihasut Chin Kwe telah menuliskan perintah itu dalam 12 kepingan emas. Artinya titah raja itu mutlak harus dijalankan.

"Kerja keras dan pertempuran 10 tahun sia-sia," kata Yue Fei sedih.

Yue Fei dan pasukannya kembali ke ibu kota dengan diiringi sambutan meriah di setiap jalan yang dilaluinya. Namun di ibu kota, Chin Kwe dan komplotannya sudah menyiapkan jebakan lain. Yue Fei dituding mengumpulkan pasukan untuk memberontak dan membunuh raja. Dia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.

Pada hari kematiannya, Yue Fei dan putranya Yue Yun berjalan tegak ke tempat eksekusi. Jenderal Besar itu tewas karena hasutan pejabat korup. Rakyat China menangis sedih melihat ketidakadilan tersebut.

Salah satu rakyat kemudian membuat boneka tepung berupa tubuh Chin Kwe dan istrinya. Karena kemarahan, boneka itu digoreng dan dimakan. Tindakan itu diikuti oleh ribuan penduduk lainnya sebagai bentuk protes. Belakangan Chin Kwe disebut Cakwee. Nama Yue Fei tak pernah dilupakan. Masyarakat China menghormatinya sampai saat ini. Begitu juga dengan Cakwee. Seiring dengan diaspora warga China ke seluruh penjuru dunia kue ini pun jadi populer di Indonesia.
SHARE

Halabiyu

Medianya Urang Halabiyu

  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar